AST Reasoning PETRI Solo: 20 Skenario untuk Melatih Clinical Reasoning Antibiotik
"Bagaimana hasil kultur dan MIC diterjemahkan menjadi keputusan antibiotik yang rasional? Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari AST Reasoning, simulator pembelajaran interaktif yang tersedia di PETRI Solo."
AST Reasoning dirancang untuk melatih klinisi agar tidak berhenti pada pembacaan hasil Antimicrobial Susceptibility Testing (AST) berupa S, SDD/I, atau R. Simulator mengajak pengguna menghubungkan hasil mikrobiologi dengan kondisi klinis, mekanisme resistensi, sumber infeksi, source control, pilihan antibiotik, de-eskalasi, hingga durasi terapi.
20 Skenario Klinis
Saat ini AST Reasoning menyediakan 20 skenario kasus dengan tingkat kompleksitas dan fokus pembelajaran yang beragam.
Kasus yang tersedia antara lain:
- Urosepsis akibat ESBL Klebsiella pneumoniae
- CRBSI akibat CRE
- VAP akibat CRAB
- Interpretasi kultur positif: ASB, kontaminasi CoNS, dan kolonisasi ETT
- Bakteremia Staphylococcus aureus pada pasien hemodialisis
- DTR Pseudomonas aeruginosa
- Infeksi Enterobacter cloacae complex dengan risiko AmpC
- Bakteremia MSSA
- Infeksi Stenotrophomonas maltophilia
- Bakteremia Enterococcus
- Candidemia
- CRE dengan dugaan MBL/NDM
- Clostridioides difficile infection
- Sistitis akibat ESBL
- Meningitis bakterial
- RR/MDR-TB
- Necrotizing soft-tissue infection
- Melioidosis
- Prosthetic joint infection
- Candida auris
Bukan Sekadar “Antibiotik Mana yang Sensitif?”
Salah satu pesan utama AST Reasoning adalah bahwa MIC bukan ranking antibiotik. Antibiotik dengan nilai MIC yang lebih rendah tidak otomatis menjadi pilihan terbaik.
Dalam simulator, pengguna dihadapkan pada berbagai clinical traps: kultur positif yang belum tentu berarti infeksi, resistensi yang memiliki mekanisme berbeda, kebutuhan source control, pilihan terapi berdasarkan lokasi infeksi, hingga keputusan untuk melakukan de-eskalasi ketika data mikrobiologi telah tersedia.
Misalnya, pada kasus CRE, pengguna diajak memahami bahwa CRE bukan satu diagnosis dengan satu pilihan terapi. Mekanisme karbapenemase seperti KPC, OXA-48, dan MBL/NDM dapat menghasilkan strategi terapi yang berbeda.
Demikian pula pada CRAB, simulator menekankan bahwa terapi tidak cukup hanya dengan memilih antibiotik berdasarkan hasil sensitivitas, tetapi perlu mempertimbangkan backbone terapi, kombinasi, restriksi antibiotik, dan monitoring toksisitas.
Konteks Indonesia dan Rumah Sakit
AST Reasoning juga menyediakan dua pilihan setting:
RSUD Dr. Moewardi — menggunakan konteks Antibiogram 2025, PPAB, dan penggolongan/restriksi KPRA institusional.
Indonesia (umum) — menggunakan perspektif nasional serta referensi IDSA/WHO AWaRe, tanpa menggunakan data institusional.
Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran tidak hanya mengenai “obat apa yang aktif terhadap bakteri”, tetapi juga bagaimana keputusan antibiotik harus ditempatkan dalam konteks antimicrobial stewardship dan kebijakan penggunaan antibiotik setempat.
Dari Kultur → Interpretasi → Keputusan
Melalui 20 skenario tersebut, AST Reasoning membawa pengguna melalui alur berpikir yang lebih lengkap:
Kondisi klinis → Kultur → AST/MIC → Mekanisme resistensi → Pemilihan antibiotik → Source control → De-eskalasi/Step-down → Durasi terapi
Dengan demikian, simulator ini dapat menjadi sarana latihan bagi dokter, peserta didik, maupun tenaga kesehatan yang ingin memperkuat kemampuan clinical reasoning berbasis mikrobiologi dan antimicrobial stewardship.
AST Reasoning tersedia di PETRI Solo Simulator dan dapat diakses melalui:
AST Reasoning adalah alat pelatihan dan tidak menggantikan penilaian klinisi yang merawat maupun PPK/PPRA dan kebijakan antibiotik setempat.
Tentang Penulis
Menyajikan informasi klinis terkini untuk profesional kesehatan.