JURNAL/ARTICLE
education

Diagnosis Sepsis, Kultur Darah, dan Klaim BPJS

A
PenulisTim Redaksi
2 Oktober 2026
5 min read
Diagnosis Sepsis, Kultur Darah, dan Klaim BPJS
"Mengapa sepsis tetap bisa ditegakkan — dan tetap layak diklaim — walau kultur darah negatif atau belum sempat diambil. Panduan praktis untuk klinisi, DPJP, dan tim koding."

 

Intisari untuk yang terburu-buru

Sepsis adalah diagnosis klinis, bukan diagnosis mikrobiologis. Kultur darah memperkuat dan menentukan kode spesifik bila tumbuh, tetapi hasil kultur negatif tidak membatalkan diagnosis sepsis. SSC 2026 menegaskan bahwa kultur darah hanya positif pada sekitar 10–20% pasien sepsis — jadi kultur negatif adalah hal yang lazim. Kunci agar klaim tidak tertolak terletak pada kelengkapan dokumentasi: kriteria sepsis terpenuhi, penanda objektif tercatat, fokus infeksi jelas, dan tata laksana sepsis diberikan serta terekam di resume medis.

1. Sepsis itu diagnosis klinis

Sejak konsensus Sepsis-3 (2016), sepsis didefinisikan sebagai disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respons tubuh terhadap infeksi — dioperasionalkan dengan peningkatan skor SOFA ≥2 akibat infeksi. Definisi ini tidak mensyaratkan ditemukannya kuman di dalam darah (bakteremia), dan definisi inilah yang tetap dipakai oleh SSC 2026.

Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2026 — pembaruan atas SSC 2021 — menyatakan secara eksplisit bahwa sepsis adalah diagnosis klinis yang tidak boleh ditegakkan atau disingkirkan hanya berdasarkan satu biomarker atau satu uji diagnostik. Pernyataan ini penting: tidak ada satu pun pemeriksaan tunggal, termasuk kultur darah, yang menjadi penentu tunggal ada-tidaknya sepsis.

Di Indonesia, acuan nasionalnya adalah Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Sepsis. PNPK menempatkan kultur darah sebagai baku emas untuk mengidentifikasi penyebab, dengan dua catatan penting yang sering terlupa:

  • Kultur sebaiknya diambil sebelum pemberian antibiotik — tetapi pengambilan kultur tidak boleh menunda antibiotik empiris pada pasien kritis.
  • Bila pasien sudah terlanjur mendapat antibiotik, kultur tetap diambil; hasil negatif adalah konsekuensi yang sudah diantisipasi, bukan tanda sepsis tidak ada.
Apa kata SSC 2026
  • Sepsis adalah diagnosis klinis; tidak di-rule in atau di-rule out dengan satu biomarker/uji diagnostik.
  • Patogen teridentifikasi pada sekitar 60–70% pasien sepsis, namun kultur darah positif hanya pada sekitar 10–20%.
  • Kultur darah diambil sedini mungkin, idealnya sebelum antibiotik — tetapi tidak boleh menunda antibiotik, terutama pada hipotensi (rekomendasi kuat).
  • Untuk skrining pasien sakit akut di rumah sakit, SSC merekomendasikan NEWS/NEWS2/MEWS/SIRS di atas qSOFA sebagai alat skrining tunggal — perhatikan: ini untuk penapisan, bukan definisi sepsis.
Bakteremia ≠ Sepsis

Bakteremia adalah keberadaan bakteri dalam darah — sebuah temuan mikrobiologis.

Sepsis adalah respons tubuh yang merusak organ akibat infeksi — sebuah sindrom klinis. Pasien bisa sepsis berat tanpa bakteremia (fokus infeksi di paru, saluran kemih, intraabdomen, dll.), dan sebaliknya bakteremia transien bisa terjadi tanpa sepsis.

2. Mengapa kultur sering negatif — dan itu wajar

Kultur darah negatif pada pasien yang benar-benar sepsis adalah hal yang lazim. SSC 2026 sendiri mencatat kultur positif hanya pada sekitar 10–20% pasien. Beberapa penyebabnya:

  • Antibiotik sudah diberikan sebelum sampel diambil (termasuk di faskes perujuk).
  • Volume darah, waktu pengambilan, atau jumlah set kultur belum optimal.
  • Penyebab non-bakteremik: fokus infeksi terlokalisasi, patogen sulit tumbuh, infeksi virus/jamur, atau sumber yang sudah terkendali.
  • Hasil baru keluar beberapa hari kemudian, sementara keputusan klinis harus diambil dalam hitungan jam.

Dengan kata lain, culture-negative sepsis adalah entitas klinis yang sah dan dikenal luas. Justru itulah alasan ICD-10 menyediakan kode A41.9 (Sepsis, organisme tidak spesifik): untuk pasien yang memenuhi kriteria sepsis namun organismenya belum/tidak teridentifikasi.

3. Kerangka baru SSC 2026: definite, probable, possible

Karena diagnosis sepsis sering tidak pasti di praktik, SSC 2026 memperkenalkan bahasa baku untuk tingkat kepastian diagnosis. Kerangka ini menegaskan bahwa sepsis ditangani sebagai sepsis walau belum ada konfirmasi mikrobiologis.

Tingkat Makna
Definite Sepsis terkonfirmasi berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan penunjang (mis. kultur positif).
Probable Kecurigaan tinggi; sepsis adalah diagnosis paling mungkin. Ditangani sebagai sepsis tanpa menunggu kultur.
Possible Kecurigaan sedang; sepsis salah satu dari beberapa kemungkinan. Antibiotik dalam 1 jam direkomendasikan terutama bila ada syok.

Implikasinya jelas: probable dan possible sepsis adalah diagnosis kerja yang sah dan ditata laksana sebagai sepsis — tanpa mensyaratkan kultur positif. Inilah yang sehari-hari dikode sebagai A41.9.

4. Sisi koding INA-CBG

Koding INA-CBG menggunakan ICD-10 revisi 2010 (diagnosis) dan ICD-9-CM (prosedur), dengan kaidah morbiditas, bersumber dari resume medis. Beberapa kaidah kunci untuk sepsis:

Kode Keterangan
A41.9 Sepsis, organisme tidak spesifik. Dipakai saat sepsis tegak klinis namun kuman belum/tidak teridentifikasi. Sudah mencakup septicaemia dan septic shock.
A41.9 + R57.2 Sepsis dengan syok septik. R57.2 ditambahkan sesuai instruksi use additional code.
A41.0 / A40.3 / dst. Kode spesifik organisme (mis. S. aureus, S. pneumoniae). Dipakai hanya bila kuman penyebab sudah tegak pada penunjang medis (kultur positif).

Logikanya jelas: kultur positif menggeser kode dari A41.9 ke kode organisme spesifik. Kultur negatif atau tidak dilakukan tidak menghapus diagnosis — pasien tetap dikode A41.9 selama kriteria sepsis terpenuhi dan tata laksana diberikan.

5. Titik rawan dispute — dan cara menyikapinya

Materi aspek medis pada Berita Acara Kesepakatan Penyelesaian Permasalahan Klaim INA-CBG mencantumkan ketentuan bahwa penegakan sepsis mengikuti kriteria SIRS dan menyertakan frasa agar melampirkan bukti kultur darah dengan hasil bakteremia, diikuti tata laksana sepsis. Dua hal perlu dipahami klinisi:

  1. Ketentuan tersebut memakai kerangka SIRS. SIRS memang direkomendasikan SSC (2021 & 2026) sebagai alat skrining, tetapi definisi dan penegakan diagnosis sepsis mengikuti Sepsis-3 (disfungsi organ/SOFA). Menyamakan skrining dengan diagnosis adalah keliru.
  2. Menuntut kultur harus positif bertentangan dengan realitas klinis — kultur positif hanya ~10–20% — dan dengan prinsip SSC 2026 bahwa sepsis tidak di-rule in/out oleh satu uji diagnostik. Inilah akar banyak kasus pending/dispute.

Yang perlu dihindari

Jangan menghapus atau menurunkan diagnosis sepsis yang sudah tegak secara klinis hanya karena kultur negatif. Yang benar adalah memperkuat dokumentasi agar diagnosis dapat dipertanggungjawabkan saat verifikasi.

6. Checklist dokumentasi yang kuat

Agar klaim sepsis tahan uji — baik kultur positif, negatif, maupun belum ada hasil — pastikan resume medis memuat:

  • ✓  Kriteria sepsis terpenuhi — cantumkan skor (SOFA/qSOFA, atau kriteria sesuai pedoman yang dipakai), tingkat kepastian (definite/probable/possible), dan fokus infeksinya.
  • ✓  Penanda objektif — leukositosis/leukopenia, laktat, prokalsitonin/CRP bila tersedia, tanda vital, status hemodinamik.
  • ✓  Bukti kultur telah diambil — catat pengambilan kultur (idealnya sebelum antibiotik), termasuk bila hasilnya steril/negatif. Tulis eksplisit: "kultur diambil, hasil tidak tumbuh".
  • ✓  Tata laksana sepsis terekam — antibiotik empiris beserta waktu pemberian, resusitasi cairan, vasopresor bila ada, dan upaya kontrol sumber.
  • ✓  Kode sesuai hasil — A41.9 bila organisme tak teridentifikasi; kode spesifik bila kultur positif; tambahkan R57.2 bila syok septik.

7. Contoh rasional untuk resume / sanggahan

Kalimat berikut dapat diadaptasi sebagai dasar klinis bila kultur negatif atau belum ada:

Diagnosis sepsis ditegakkan secara klinis atas dasar adanya infeksi (fokus: ____) disertai disfungsi organ (skor ____). Penanda objektif: ____. Kultur darah telah diambil sesuai prosedur; hasil tidak menunjukkan pertumbuhan / belum tersedia. Sesuai Sepsis-3 dan SSC 2026, sepsis adalah diagnosis klinis dan tidak disingkirkan oleh satu uji diagnostik; kultur darah hanya positif pada sekitar 10–20% pasien sepsis. Kode A41.9 digunakan karena organisme penyebab tidak teridentifikasi. Tata laksana sepsis telah diberikan: ____.

Penutup

Kultur darah tetap wajib diupayakan pada setiap dugaan sepsis — bukan demi klaim, melainkan demi terapi yang tepat dan pengendalian resistansi antimikroba. Namun diagnosis sepsis berdiri di atas penilaian klinis, bukan pada tumbuh-tidaknya kuman di botol kultur. Dengan dokumentasi yang lengkap dan konsisten, klinisi memiliki dasar yang kuat untuk mempertahankan diagnosis dan klaimnya.

Bila terjadi pending atau dispute yang menuntut kultur harus positif, kasus layak diangkat melalui jalur verifikasi dan Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (TKMKB) bersama organisasi profesi, karena bertentangan dengan pedoman klinis yang diakui (PNPK, Sepsis-3, dan SSC 2026).

Rujukan

  1. Prescott HC, Antonelli M, Alhazzani W, dkk. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2026. Intensive Care Med / Crit Care Med. 2026 (terbit Maret 2026; menggantikan pedoman SSC 2021).
  2. Singer M, Deutschman CS, Seymour CW, dkk. The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA. 2016;315(8):801–810.
  3. PNPK Tata Laksana Sepsis — KMK HK.01.07/MENKES/342/2017 (dewasa) dan PNPK Tata Laksana Sepsis pada Anak 2021.
  4. Permenkes No. 76 Tahun 2016 tentang Pedoman INA-CBG; diperbarui dengan Permenkes No. 26 Tahun 2021.
  5. Berita Acara Kesepakatan Bersama Penyelesaian Permasalahan Klaim INA-CBG (2019 & 2023) serta Panduan Manual Verifikasi Klaim INA-CBG.

Materi ini bersifat edukatif. Untuk ketentuan klaim yang mengikat, rujuk dokumen Berita Acara resmi terbaru dan koordinasikan dengan tim casemix serta verifikator BPJS setempat

Topik Terkait
#Medis#Update#Jurnal

Tentang Penulis

A
Admin PETRI
Editor Medis

Menyajikan informasi klinis terkini untuk profesional kesehatan.